KONSEP ILMU PENGETAHUAN DI BARAT

23.16 |

Ilmu pengetahuan merupakan suatu yang sangat penting bagi manusia dalam kehidupannya. Paling tidak, keberadaannya dapat dijadikan untuk bertahan hidup. Perkembangan ilmu pengetahuan sekarang ini tidak lepas dari perjalanan sejarah panjang sosok ilmu pengetahuan itu sendiri. Rekaman sejarah yang dapat dirunut ke belakang sampai ribuan tahun sebelum Masehi sampai sekarang menandakan juga adanya perkembangan tentang diskursus tentang hal-hal apa sajakah yang dapat dikategorikan dengan pengetahuan atau ilmu pengetahuan. Demikian juga halnya dengan masalah sumber-sumber dan klasifikasi ilmu pengetahuan. Hal tersebut menambah semaraknya wacana ilmu pengetahuan di Barat. Namun, apa yang dihasilkan Barat tersebut apakah murni dihasilkan dari tradisi mereka saja? Dalam artikel ini diungkap bagaimana kontribusi Islam atas kemajuan ilmu pengetahuan di Barat.

2 komentar:

Lokus Ulul Albab mengatakan...

Assalamu'alaikum wr wb
wah punya blog juga ya, pak? wahh gaul dong pak. ma'af ini pake blog Kammi aja ya biar lebih enak commentnya, koz blog saya pribadi pake multiply (lucudanselaluceria.multiply.com) dan ga connect kalo ngposting komentar di blogspot.
tentang konsep ilmu pengetahuan Barat, saya kira menarik juga judul postingnya. Nah, Konsep Ilmu Pengetahuan Barat, saya setuju dengan pendapat Bapak bahwa hal tersebut tidak dapat lepas dari sejarah Barat itu sendiri yg membentuk nalar dan cara berpikir barat.
cara berpikir ini jelas menentukan paradigma. yg dimaksudkan paradigma kan, tentang standart pengetahuan apa yg dijadikan ukuran, bahwa pengetahuan itu valid, so berkaitan erat dengan epistemologi.
nah standart pengetahuan yg di Barat, memang selalu berdinamis. dulu ketika di Yunani, paradigma rasionalist sangat berperan. bahwa pengetahuan itu dihasilkan oleh rasio atau kerja kognitif manusia.
tetapi setelah masa gereja memegang kekuasaan, peran rasionalisme bergeser ke paradigma wahyu. bahwa pengetahuan dianggap tidak valid, apabila bertentangan dg wahyu. dan masa kembalinya rasionalisme adalah diawali dengan skeptisme Descartes, dan akhirnya konsep pengetahuan berdasarkan kewahyuan akhirnya tumbang di tangan Kant, yg mempertanyakan batas pengetahuan manusia, so metafisika tidak layak disebut pengetahuan.
nah, perkembangan selanjutnya adalah corak induktivisme dari Bacon, pada empirisme Hume, dan terus ke positivisme merupakan perubahan nalar ke arah ilmu pengetahuan (sains).
dalam sains sendiri ada beberapa asumsi awal yg terbangun
1. bahwa obyek pengetahuan lepas dari subyektivitas manusia.
2. pengetahuan tentang suatu obyek tersebut bersifat netral, dan mempunyai hukumnya sendiri.
3. pekerjaan penelitian dilakukan untuk mencari hukum dari alam (obyek pengetahuan)
4. karena alam mempunyai hukum sendiri, oleh karena itu harus ada metode yg baku dimana semua ilmuwan menyepakatinya. metode tersebut adalah positivistik, dimana pakai kerja induktif-deduktif.
yaitu semacam metode dg mencari peristiwa yg khusus untuk menemukan pernyataan yg umum. dan pernyataan yg umum itulah yg disebut sebagai hukum, itulah asumsi2 yg ada dalam ilmu pengetahuan (sains).
tetapi, ilmu pengetahuan yg merasa benar sendiri itupun, dikritik oleh beberapa filsuf dari aliran fenomenologi, eksistensialis maupun postmodernisme.
bagi mereka manusia lah yg menentukan pengetahuan. pengetahuan bukan suatu hal yg netral dan dapat berdiri di luar kepentingan manusia yg memproduksi ilmu pengetahuan itu sendiri. postmodernisme meletakkan historisitas manusia atau aktivitas nyata manusia di dunia sebagai yg utama di atas basis ontologis. artinya kebenaran (baik itu mengatasnamakan ilmu pengetahuan atau agama) tdk dapat lepas dari relasi dan aktivitas manusia yg memproduksinya.

nah dinamika sejarah lah yg membentuk arah tersebut. dan dinamika sejarahlah yg memberikan pelajaran kepada eropa bahwa konsepsi pengetahuan berdasarkan wahyu (baca: Injil) tidak relevan dan bertentangan dengan penemuan sains. selain itu masyarakat eropa mempunyai pengalaman traumatis selama kekuasaan gereja.

so, bgmn dg dunia islam? jelas secara historis, antara Islam dengan Barat berbeda. Dalam islam tidak ditemukan antara konflik pengetahuan dan agama. kecuali perdebatan filosofis masalah ketuhanan, dan hal itu tidak dapat disebut sebagai konflik antara agama dan sains, berbeda dengan barat yg jelas menginkuisisi Galileo.

selain itu, al Qur'an sendiri tidak bertentangan dg sains, oleh karena itu berbeda dg injil yg banyak sekali ayatnya yg tidak masuk akal (seperti awal mula kitab kejadian dalam perjanjian lama misalnya)

islam juga mempunyai world view atau pandangan hidup yg berbeda dengan apa yg di barat. di barat pandangan hidup tidak dapat lepas dari upaya kognitif manusia dalam melahirkan sebuah "kebenaran" sehingga relativisme dan kebebasan berfikir dapat diberikan tempat untuk menentukan mana yg benar dan mana yg salah, baik itu di bidang filsafat maupun dalam bidang ethika.

dlm islam, world viewnya berpangkal pada Allah. Manusia merupakan hamba yg harus tunduk kepada ALlah. dalam ketertundukan itu manusia diberikan pedoman untuk mengukur tingkah laku manusia. Dan sebagai seorang muslim harus mengikuti petunjuk itu.

mungkin banyak yg bertanya, bukankah pemahaman kita terhadap wahyu adalah relativ?? iya memang relatif, tetapi tidak mungkin kerelativannya itu diradikalkan. tidak mungkin perbedaan pendapat di antara sesama muslim, yg satu mengatakan bahwa dlm al Qur'an dilarang melakukan homoseksual, tetapi di sisi yg lain homoseksual diperbolehkan. paling hanya berkisar tentang puasa itu dimulai waktu fajar shodiq atau kadzib, masalah do'a qunut, yasinan, yg bersifat furu'iyah ikhtilafiyah bukan masalah ushuliyah.

ini aja, tentang posting kami. Dan menarik apabila diajak diskusi tentang masalah epistemologi dalam islam.
wassalamu'alaikum wr wb

Muhammad Barir Irfanie mengatakan...

ilmu adalah sesuatu yang hilang..
maka dari itu ilmu dicari.. karena ilmu adalah milik kita yang telah dianugrahkan tuhan..